Gondrong dan Gundul; sebuah tantangan

Istimewa


Tulisan ini berawal dari diskusi santai saya dengan beberapa orang di salah satu warung kopi. Sebenarnya diskusi itu sangat mendadak, kenapa tidak, saya dihubungi sekitar sepuluh menit dari waktu dimulainya diskusi. Undangan itu membuat saya harus terburu-buru untuk mengunjungi warung kopi yang sudah ditentukan.


Diskusi dengan undangan mendadak itu berlangsung sangat lemak hingga berjam-jam kami duduk melingkar, berdiskusi. Ada banyak varian pembahasan yang kami diskusikan, mulai dari yang berkaitan dengan jurusan kuliah, organisasi ekstra, hingga pembahasan yang bersifat perseorangan.

Diluar pembahasan itu, saya tiba-tiba teringat dengan salah satu buku yang membahas bagaimana rambut gondrong menjadi ancaman serius bagi orde baru. Rambut gondrong adalah masalah serius terutama pada awal 1970an atau awal-awal orde baru berkuasa. Buku itu berjudul Dilarang gondrong, praktik kekuasaan orde baru terhadap anak muda awal 1970an.

"Rambut gondrong" adalah dua kata yang jikalau diucapkan sangat biasa aja atau kata anak muda zaman sekarang "ah B aja deh". Akan tetapi, persoalan yang seakan sangat sepele ini ternyata menyita perhatian khusus penguasa. Petinggi militer mengeluarkan radiogram pelarangan rambut gondrong, bahkan Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) juga berbicara mengenainya di TVRI.

Dari saking terlalunya sampai dibentuk Badan koordinasi pemberantasan rambut gondrong (Bakorperagon). Razia dan denda digencarkan di jalan-jalan dengan senjata gunting. Instansi publik menolak melayani orang-orang berambut gondrong. Pelajar, mahasiswa, artis, dan pesepak bola dilarang gondrong.

Pertanyaannya adalah: mengapa? Mengapa Orde Baru begitu cemas terhadap rambut gondrong? Nah dengan jelas sekali buku yang ditulis oleh Aria Wiratma Yudhistira ini mampu menelusuri kembali episode menggelikan sekaligus mengenaskan dalam Sejarah Indonesia. Beliau ini dengan bahan yang dikumpulkan dari beberapa catatan-catatan lama yang pernah membahas masalah rambut gondrong membuka tabir bagaimana awal dari sikap paranoid rezim yang selalu melihat rakyatnya sendiri sebagai ancaman.

Okelah rambut gondrong adalah persoalan masa lalu. Selain teringat pada buku itu, saya juga teringat pada sebuah kata-kata dari senior yang pernah diucapkan di depan warung kopi beberapa malam lalu. Kata-kata yang disampaikan kurang lebih begini, "rambut gondrong itu adalah perlawanan, rambut (kepala botak) juga perlawanan, sedangkan rambut yang dipotong biasa aja tidak berefek apa-apa," jelas senior saya itu.

Ketika dipikirkan memang benar apa yang beliau sampaikan itu. Terbukti bahwa pada zaman orde baru terutama di awal tahun 1970an rambut gondrong menjadi perhatian khusus penguasa. Orde baru sangat berhati-hati sehingga mengontrol secara khusus bagi mereka yang gondrong karena pada saat itu banyak dari mereka adalah anak muda yang kritis (mahasiswa).

Kejadian yang saat ini bisa kita katakan sangat menggelikan pernah terjadi secara tegang dalam masyarakat. Pemerintah dengan serius melakukan dua cara dalam memberantas rambut gondrong. Pertama, kuasa wacana. Rambut gondrong dicitrakan negatif sebagaimana yang diceritakan oleh media saat itu seperti pemerkosaan oleh beberapa anak muda gondrong dan sebagainya. Kedua, dengan tindakan fisik seperti yang sudah diulas sejak awal.

Jadi, rambut gondrong pada saat itu dinilai sebagai ancaman dimana anak muda gondrong menjadi icon tersendiri dari perlawanan kepada orde baru. Mereka merasa tidak puas atau kecewa mengenai cita-cita negara ideal gagal dilaksanakan oleh orde baru. Pembangunan yang terus digaungkan pun hanya menyentuh segelintir lapisan masyarakat saja. Kekecewaan ini kemudian ditunjukkan melalui serangkaian aksi demonstrasi yang menolak berbagai kebijakan pemerintah.

Bagaimana dengan rambut gundul atau kepala botak? Tentu dalam hal ini tidak akan sama dengan efek rambut gondrong. Rambut gundul (kepala botak) seakan sangat ditakuti oleh para anak muda. Kenapa demikian?

Rambut gundul dalam masyarakat selalu menjadi stigma bahwa orang tersebut adalah sosok yang nakal. Hal ini berkaitan dengan takdziran yang berada di beberapa pondok pesantren. Semisal ada seorang santri yang keluar tanpa idzin, maka konsekuensinya akan digundul oleh pihak kemananan dan ketertiban pondok pesantren tersebut. Hal itulah yang kemudian menjadi salah satu sumber ketakutan bagi seseorang yang rambutnya gundul.

Rambut gundul harus sebisa mungkin dihindari oleh anak muda saat ini, bahkan Donal Trum juga sudah mengatakan demikian. Keseharian dengan kepala yang mengkilap itu akan menjadi perjalanan seram atau menakutkan untuk dilewati. Ocehan dan tertawaan datang dari arah depan, samping, dan belakang.

Kata-kata yang disampaikan oleh senior saya diatas itu memang benar, rambut gundul juga perlawanan dan tantangan. Keteguhan mental kita diuji dengan berbagai cercaan yang membuat dada dan kuping sesak. Kita bisa saja mati atau tidak sadar diri jika tidak kuat dengan segala umpatan yang menyapa.

Selain perlawan dalam pengertian tersebut, rambut gundul sebagai perlawanan bisa kita refleks ke belakang. “Kalau aku dapat mengalahkan Belanda, maka akan kupotong rambutku” teriak Pangeran Diponegoro di depan pasukannya. Mendengar nazar tersebut, pasukan Muslim menjadi garang di medan perang.

Bung Tomo rupanya juga melakukan hal yang sama. Untuk membakar semangat arek-arek Suroboyo, dia juga memotong rambutnya yang gondrong. “Kita akan memotong Belanda, seperti saya memotong rambut ini”, teriaknya. “Allahu akbar, Allahu Akbar”

Rambut gundul ternyata juga mewakili dalam menyatakan sikap seseorang yang zuhud. Hal ini tercermin dalam sosok seorang biksu dalam agama budha. Dalam Islam juga diajarkan semisal tahallul. Ajaran yang demikian mengandung pemahaman bahwa rambut adalah simbol duniawi, karena kita akan disibukkan menyisir, merawat, bahkan berdandan.

Padahal, orang cakep itu sangat relatif. "Cakep" itu ada tergantung bagaimana orang yang menilai. Akan tetapi, kita tidak boleh hanya berpegang pada penilaian orang. Kita harus tegap dengan pendirian sendiri. Berjalan dengan sikap yang sudah kita ambil. Jangan mudah goyah dengan segala stigma. Lawan segala bentuk pelecehan karena sebuah hal yang sangat sepele.

Kita hidup dengan jalan kita sendiri. Selagi tidak merugikan orang lain, silahkan berteguh pada pendirian dan tegaplah dengan segala ombak kehidupan. Kepala botak juga banyak memuat pelajaran dan perjuangan.

Akhirnya, rambut dengan potongan pas pasan tidak berefek apapun. Perlawanan dan tantangan hanya ada pada rambut gondrong dan botak. Kalau kalian berani gondrong maka kalian harus berani botak, begitu sebaliknya.



Paiton, 28/12/2020 - 02.24

Komentar

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar asalkan tidak meyinggung SARA dan tetap menjaga toleransi demi keharmonisan bersama