Langsung ke konten utama

KH Moensif; Rayon adalah Jantung PMII

PMII UNUJA Bersama KH Moensif Nachrowi
Sejak bergabung di PMII melalui MAPABA dan lewat berbagai tulisan yang sudah tersebar dimana-mana, disebutkan bahwa ada 13 tokoh sebagai pendiri dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Namun, tentunya kita hanya sebatas tahu akan nama-nama tersebut tanpa ada rasa ingin tahu dimana keberadaannya sekarang. Apakah masih hidup atau sudah meninggal mendahului kita semua.

Sejak berdirinya pada tahun 1960 sampai pada saat ini 2019, PMII sudah berumur 59 tahun. Tentunya kita akan berfikiran bahwa para pendiri itu sudah tiada atau meninggal. Tetapi kalau kita tidak menanyakan atau mencari tahu akan 13 pendiri tersebut yah kita akan tetap berasumsi seperti itu. Karena melihat umur PMII yang sudah setengah abad lebih.

Hal ini baru saya sadari ketika di suatu pagi menjelang siang dapat pesan Whatsapp dari salah satu kakak kelas. Isinya kurang lebih menanyakan tentang kepastian saya ikut ke Jombang. Beliau juga bilang akan mampir ke Singasari untuk bertemu dengan pendiri PMII. Nah, pada saat itulah saya bertanya-tanya, pendiri pmii yang mana untuk ditemui tersebut.

Ternyata, tanpa saya sadari, bahkan bukan hanya saya saja, ada kebanyakan orang yang belum tahu bahwa masih ada dari 13 pendiri pmii yang masih hidup. Salah satunya adalah KH Moensif Nachrowi yang saat ini berada di Singosari Malang. Kyai Moensif ini pada saat itu menjadi salah satu dari 13 pendiri yang berasal dari Perguruan Tinggi Yogyakarta tepatnya Universitas Gajah Mada (UGM).

Beliau adalah orang Malang yang pada saat itu kuliah di Yogyakarta. Karena menurutnya, sejak lulus SMA pada 1957, di Malang belum ada perguruan tinggi. Sehingga memutuskan kuliah di tempat lain dan terpilihnya jogja untuk meneruskan pendidikan perguruan tingginya.

Pada saat ini, beliau sudah berumur 84 tahun. Meskipun terbilang cukup sepuh, ingatannya masih sangat sempurna. Terlihat dari bagaimana beliau menyampaikan berbagai macam pengalamannya di masa mudanya. Penyampaiannya pun cukup menginspirasi. Ada banyak hal yang menjadi pencerahan bagi kami para anggota PMII pada di zaman sekarang.

Beliau menganalogikan para mahasiswa yang masuk menjadi calon anggota di pmii seperti sebuah sasaran yang akan kita tangkap dan sudah kita dapatkan serta terbungkus dalam sebuah plastik. Tinggal bagaimana kreatif kita untuk menjadikan tangkapan tersebut betah dan bermanfaat. Maka dari itu, beliau berpesan agar dicoba dekati dan pahami kemauannya.

"Kita sekarang yang sudah tidak begitu susah untuk mendapatkan anggota seperti dulu zaman saya harus lebih aktif. Anggotanya didekati dan pahami apa yang menjadi kemauannya. Kalau sudah ketemu, cobalah fasilitasi mereka dengan baik. Kasih mereka ruang untuk menyalurkan minat-minatnya," ungkapnya.

Selain harus bisa dekat dan memahami para anggotanya, beliau juga menyampaikan bahwa Rayon lah yang mempunyai tanggung jawab lebih besar meskipun jabatannya di paling bawah karena para pengurus Rayon yang langsung berhadapan langsung bersama puluhan hingga ratusan anggota untuk menemani di perguruan tinggi masing - masing.

Kedekatan  rayon bersama anggotanya inilah yang  bisa  mendeteksi dengan mudah bagaimana gerak-gerik anggota, peminatannya, dan banyak hal lainnya. Bahkan beliau sangat tidak mendukung jika di komisariat belum ada rayonnya. Sehingga setiap kali beliau diundang, pasti akan sangat senang jika bertemu dengan pengurus rayon dan anggotanya.


Penulis: Ar
Editor: MIA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal 3 Posisi Penulis dalam Menulis

Apa kabar guys? Semoga kabarnya menyenangkan yahhh! Bagaimana nih apakah masih bersemangat untuk tetap menulis? Kalau masih, mari kita belajar bersama dan terus meningkatkan kreativitas menulisnya. Postingan sebelumnya, saya sudah kasih beberapa tips yang perlu diperhatikan oleh para penulis pemula. Nah , sekarang saya sudah siapkan bagaimana seorang penulis itu memposisikan dirinya dalam karya tulisnya sendiri. Seperti yang sudah saya katakan pada postingan sebelumnya, bahwa seorang penulis pemula sering mengeluhkan tidak tahu cara memulai dan merangkai kata atau macet dalam menuangkan idenya ke dalam tulisannya. Hal ini memang sering terjadi dan salah memposisikan dirinya dikala menulis. Saya sudah sediakan bagaimana sih cara seorang penulis itu memposisikan dirinya. Dibawah ini sudah ada 3 point penting mengenai posisi penulis. Yuk baca lebih lanjut untuk mengetahuinya. Pertama, Penulis memposisikan dirinya sebagai penulis. Yah tentulah kalau tidak sebagai penulis lalu s

Himaprodi Kpi Unuja; Konsep Baru Musyawarah Besar 2021

  PROBOLINGGO – Corona Virus Disiase 2019 (Covid-19) membuat banyak lini kehidupan kemasyarakatan harus patuh terhadap protokol kesehatan yang diterapkan oleh pihak Satuan Tugas (Satgas) Covid-19. Masyarakat diharuskan mematuhi untuk tidak berkerumun, tidak melakukan kontak langsung, memakai masker, mencuci tangan, dan beberapa anjuran lainnya untuk mencegah rantai penyebaran Covid-19. Sudah hampir satu tahun sejak kasus pertama diumumkan pertama pada awal maret 2020, Covid-19 di Indonesia masih tidak mengalami perkembangan baik yang cukup berarti. Salah satu dampaknya menyasar pada banyak organisasi untuk mampu survive dengan menyesuaikan diri terhadap protokol kesehatan. Program kerja organisasi yang seharusnya sudah terselesaikan harus tertunda bahkan gagal terlaksana. Himpunan Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Nurul Jadid (HIMAPRODI KPI) adalah salah satu dari sekian banyak organisasi yang sudah berbulan-bulan tidak menemukan kejelasan dalam arah gera

Pembukaan Osabar 2021, KH Zuhri Zaini Jelaskan Pesantren dan Santri Zaman Nabi

  Kegiatan rutin tahunan Orientasi Santri Baru (OSABAR) Pondok Pesantren (PP) Nurul Jadid kembali digelar. Osabar yang akan dilaksanakan selama 5 hari, 11 – 15 Juli 2021, digelar di Aula 2 bagi santri putra dan Aula 1 bagi santri putri. Pengasuh PP Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, menyampaikan selamat datang kepada para santri baru baik yang sudah maupun belum pernah mondok. “Mudah-mudahan anda-anda sekalian selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT sehingga bisa kerasan di pondok ini dan bisa melaksanakan kegiatan dengan baik, serta diberi kesehatan dan hidayah dari Allah,” harapnya. Selain itu, Kiai Zuhri menuturkan bahwa pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang berbasis keislaman. “Khusus di Indonesia tentu berbasis masyarakat dan kebangsaan,” jelasnya. Lebih lanjut, Kiai Zuhri juga menjelaskan bahwa cikal bakal pondok pesantren sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, Nabi tidak hanya diutus sebagai rasul namun juga menjadi muallim (red, pengajar).