Langsung ke konten utama

Ricuh, Kongres VI Forkomnas KPI diwarnai WO dan mundurnya tim pelaksana

Kongres VI Forkomnas KPI diadakan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai tindak lanjut Pra Kongres yang diadakan di IAIN Purwokerto pada februari 2019. Kongres ini berlangsung selama 3 hari, 28-31 oktober 2019.

Pra Kongres tersebut salah satunya membentuk tim panitia pelaksana untuk membantu terselenggaranya Kongres VI Forkomnas KPI. Namun, pada saat pelaksanaan kongres, Ketua Umum PP Forkomnas KPI, Ibnu Yahya menyatakan secara terbuka di depan peserta kongres bahwa tim pelaksana mengundurkan diri.

Pengunduran tim pelaksana kongres dikarenakan ada rasa ketidak mampuan untuk melanjutkan tugas pada acara ini. Hal ini juga dikarenakan ada beberapa tim pelaksana yang tidak hadir atau maksimal dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Seperti halnya yang diungkapkan Afif Faturrakhman bahwa ia mengundurkan diri karena tidak adanya yang memimpin, "Bagaimana kita mau bergerak jika kepalanya tidak ada" jelas afif.

Sehingga pada acara kongres ini, Sidang langsung dialihkan dan dipimpin oleh pengurus pusat. M. Izzat Abdi dipilih menjadi presidium sidang I yang di dampingi oleh Latiful Anam Assidiqi sebagai presidium sidang II dan Anisa Nurkhsanah sebagai Presidium Sidang III.
Dok Pribadi

Selain itu, Semua perwakilan PTAI yang berada dibawah naungan Wilayah I Jatim-Ntb yang hadir sempat WO dari tempat pelaksanaan sidang. Pasalnya, gara-gara dari wilayah lain terlalu mempermasalahkan sesutu yang bersifat teknis. Padahal pada acara sidang kongres tersebut, sedang dikejar oleh waktu karena batasnya penyewaan aula.

Korwil Wilayah I, Ahmad Imron Arrosid menyatakan mengenai keluarnya wilayah I dari pelaksanaan sidang. "Kita sempat WO karena melihat kondisi forum sudah tidak kondusif, kebanyakan hanya berbincang terkait teknis tanpa melihat kondisi waktu yang semakin mepet. Karena kita tidak mungkinlah berbicara teknis terkait persidangan, karena yang namanya kongres itu bukan forum kecil. Tapi bagaimana kita bisa mengolah skill kita disitu, lebih jelih dan cerdik menyikapi sesuatu yang bukan hanya terkait teknis", jelas mahasiswa kpi Iaida banyuwangi tersebut.


Penulis: Ar
Editor: AIM

Komentar

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar asalkan tidak meyinggung SARA dan tetap menjaga toleransi demi keharmonisan bersama

Postingan populer dari blog ini

Catatan untuk seorang perempuan yang berani berdiri diatas kakinya sendiri

Kartini, sosok perempuan hebat masa lalu Nama dan perjuangannya adalah sesuatu yang baru Perempuan cerdas dalam pusaran orang-orang yang tidak tahu Bergema, menentang budaya dan aturan yang kaku   Jiwanya memberontak terhadap sejarah yang mulai membeku Berdiri dan berlari, melawan arus untuk lebih maju Semuanya merupakan warisan besar untuk perempuan abad 21 Untuk itu, sebuah refleksi, apakah kita mampu untuk meniru   Perempuan abad 21, harus banyak memberi kontribusi Di kala semua orang terpaku pada ajaran yang sudah basi Perempuan layaknya kartini yang selalu menginspirasi Cahaya terang untuk semua kalangan lintas generasi Ia yang tidak mudah untuk didominasi oleh para laki-laki   Karya, adalah modal utama perempuan masa kini Cerdas dan visioner adalah sebuah visi Akhlakul karimah sebagai penunjang untuk lebih mumpuni Menuju perempuan berdaya dan mandiri yang punya harga diri Layaknya seorang ibu bernama kartini   Wahai para kartini baru, j

Pembukaan Osabar 2021, KH Zuhri Zaini Jelaskan Pesantren dan Santri Zaman Nabi

  Kegiatan rutin tahunan Orientasi Santri Baru (OSABAR) Pondok Pesantren (PP) Nurul Jadid kembali digelar. Osabar yang akan dilaksanakan selama 5 hari, 11 – 15 Juli 2021, digelar di Aula 2 bagi santri putra dan Aula 1 bagi santri putri. Pengasuh PP Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, menyampaikan selamat datang kepada para santri baru baik yang sudah maupun belum pernah mondok. “Mudah-mudahan anda-anda sekalian selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT sehingga bisa kerasan di pondok ini dan bisa melaksanakan kegiatan dengan baik, serta diberi kesehatan dan hidayah dari Allah,” harapnya. Selain itu, Kiai Zuhri menuturkan bahwa pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang berbasis keislaman. “Khusus di Indonesia tentu berbasis masyarakat dan kebangsaan,” jelasnya. Lebih lanjut, Kiai Zuhri juga menjelaskan bahwa cikal bakal pondok pesantren sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, Nabi tidak hanya diutus sebagai rasul namun juga menjadi muallim (red, pengajar).

Mengenal 3 Posisi Penulis dalam Menulis

Apa kabar guys? Semoga kabarnya menyenangkan yahhh! Bagaimana nih apakah masih bersemangat untuk tetap menulis? Kalau masih, mari kita belajar bersama dan terus meningkatkan kreativitas menulisnya. Postingan sebelumnya, saya sudah kasih beberapa tips yang perlu diperhatikan oleh para penulis pemula. Nah , sekarang saya sudah siapkan bagaimana seorang penulis itu memposisikan dirinya dalam karya tulisnya sendiri. Seperti yang sudah saya katakan pada postingan sebelumnya, bahwa seorang penulis pemula sering mengeluhkan tidak tahu cara memulai dan merangkai kata atau macet dalam menuangkan idenya ke dalam tulisannya. Hal ini memang sering terjadi dan salah memposisikan dirinya dikala menulis. Saya sudah sediakan bagaimana sih cara seorang penulis itu memposisikan dirinya. Dibawah ini sudah ada 3 point penting mengenai posisi penulis. Yuk baca lebih lanjut untuk mengetahuinya. Pertama, Penulis memposisikan dirinya sebagai penulis. Yah tentulah kalau tidak sebagai penulis lalu s