Langsung ke konten utama

Dangkal Pengalaman; Sulit Menemukan Kebenaran di Jakarta

Terminal Tanjung Priok

Sesuatu yang tidak disangka-sangka, diluar dugaan dan rencana, akhirnya saya juga sampai di Ibukota, DKI JAKARTA. Hal ini dikarenakan kakak sepupu perempuan saya yang begitu memaksa agar saya melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Karena pada waktu itu, saya sedang menghadiri Kongres Nasional Forkomnas KPI di Bandung. Bandung ke Jakarta hanya butuh 3 jam an perjalanan, sehingga saya didesak untuk terus ke Jakarta.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk berpisah dengan teman-teman dan lanjut ke Jakarta. Meskipun baru pertama kalinya, tidak tahu seluk beluk jakarta, saya memberanikan diri untuk tetap sampai di jakarta. Pada tanggal 2 november, saya naik kereta ke stasiun pasar senen. Disana saya dipesankan Grab motor oleh kakak sepupu yang akhirnya mengantarkan saya sampai ke rumahnya.

Bersyukur sekali, saya juga bisa merasakan kenikmatan, suasana, dan sapaan dari jakarta. Hari itu, saya tidak lagi hanya mendengar atau melihat di tv-tv akan Jakarta. Tapi bisa lebih dekat dan lebih sedikit kenal akan ibukota negara Indonesia ini. Meskipun waktu dan keadaan yang hanya mengijinkan saya tidak bisa berlama-lama dengan jakarta.

Waktu yang sangat singkat ini, sekitar 3-4 hari saya maksimalkan untuk mendatangi keluarga-keluarga dekat dan tempat-tempat terkenal di Jakarta. Meskipun kayaknya sudah basi, lebih dulu banyak dikunjungi orang-orang, yah tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Keliling monas, Ancol, dan ke Islamik yang ditemani oleh orang-orang yang sangat akrab dan saya kagumi.

Terlepas dari kali pertama saya ke Jakarta. Di waktu saya akan pulang, saya menunggu kedatangan bus di terminal Tanjung Priok. Kurang lebih 3 jam an saya menunggu, ada seorang bapak-bapak yang mulai menginjak kakek-kakek duduk disebelah saya sembari minum es ditangannya. Bapak itu berkeluh kesah akan keadaan dirinya yang mana katanya orang-orang di Jakarta kurang peduli ke bapak tersebut.

Beliau bilang sangat beruntung orang yang punya kampung seperti saya. Karena, bapak itu berasal dari Sulawesi yang tidak punya uang banyak untuk pulang kesana sehingga ia menganggap tidak lagi punya kampung. Ia juga bercerita mengenai dirinya yang sempat tidak makan selama 8 hari dan penderitaan penderitaan lainnya. Disela-sela saya mendengarkan cerita bapak tersebut. Terlintas dari arah depan, ada bapak penjual kopi dan pop mie menggerakkan tangannya ke arah saya yang menunjukkan arti jangan dipercaya.

Pada dua kejadian ini, saya mulai bingung untuk percaya kepada siapa. Percaya kepada bapak yang berkeluh kesah atau bapak penjual kopi yang mengisyaratkan untuk tidak percaya. Saya sadar, ini Jakarta yang katanya sangat keras dan jahat. Pikiran dan hati saya mulai bimbang dan muncul pikiran "jangan-jangan bapak ini hanya berpura-pura mengeluh agar dikasihani".

Mengolah dua kejadian itu sangatlah tidak mudah. Butuh sikap tabayyun dengan penuh hati-hati untuk mendapatkan kesimpulan yang baik. Sepertinya sulit sekali untuk mendapatkan kebenaran. Mungkin, orang awam seperti saya yang masih dangkal pengetahuan akan Jakarta, hanya bisa berdoa agar kasih sayang tuhan tetap berpihak kepada mereka yang benar pada dua kejadian tersebut.




Penulis: AR
Perjalanan Jakarta-Madura, 6/11/2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan untuk seorang perempuan yang berani berdiri diatas kakinya sendiri

Kartini, sosok perempuan hebat masa lalu Nama dan perjuangannya adalah sesuatu yang baru Perempuan cerdas dalam pusaran orang-orang yang tidak tahu Bergema, menentang budaya dan aturan yang kaku   Jiwanya memberontak terhadap sejarah yang mulai membeku Berdiri dan berlari, melawan arus untuk lebih maju Semuanya merupakan warisan besar untuk perempuan abad 21 Untuk itu, sebuah refleksi, apakah kita mampu untuk meniru   Perempuan abad 21, harus banyak memberi kontribusi Di kala semua orang terpaku pada ajaran yang sudah basi Perempuan layaknya kartini yang selalu menginspirasi Cahaya terang untuk semua kalangan lintas generasi Ia yang tidak mudah untuk didominasi oleh para laki-laki   Karya, adalah modal utama perempuan masa kini Cerdas dan visioner adalah sebuah visi Akhlakul karimah sebagai penunjang untuk lebih mumpuni Menuju perempuan berdaya dan mandiri yang punya harga diri Layaknya seorang ibu bernama kartini   Wahai para kartini baru, j

Pembukaan Osabar 2021, KH Zuhri Zaini Jelaskan Pesantren dan Santri Zaman Nabi

  Kegiatan rutin tahunan Orientasi Santri Baru (OSABAR) Pondok Pesantren (PP) Nurul Jadid kembali digelar. Osabar yang akan dilaksanakan selama 5 hari, 11 – 15 Juli 2021, digelar di Aula 2 bagi santri putra dan Aula 1 bagi santri putri. Pengasuh PP Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, menyampaikan selamat datang kepada para santri baru baik yang sudah maupun belum pernah mondok. “Mudah-mudahan anda-anda sekalian selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT sehingga bisa kerasan di pondok ini dan bisa melaksanakan kegiatan dengan baik, serta diberi kesehatan dan hidayah dari Allah,” harapnya. Selain itu, Kiai Zuhri menuturkan bahwa pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang berbasis keislaman. “Khusus di Indonesia tentu berbasis masyarakat dan kebangsaan,” jelasnya. Lebih lanjut, Kiai Zuhri juga menjelaskan bahwa cikal bakal pondok pesantren sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, Nabi tidak hanya diutus sebagai rasul namun juga menjadi muallim (red, pengajar).

Mengenal 3 Posisi Penulis dalam Menulis

Apa kabar guys? Semoga kabarnya menyenangkan yahhh! Bagaimana nih apakah masih bersemangat untuk tetap menulis? Kalau masih, mari kita belajar bersama dan terus meningkatkan kreativitas menulisnya. Postingan sebelumnya, saya sudah kasih beberapa tips yang perlu diperhatikan oleh para penulis pemula. Nah , sekarang saya sudah siapkan bagaimana seorang penulis itu memposisikan dirinya dalam karya tulisnya sendiri. Seperti yang sudah saya katakan pada postingan sebelumnya, bahwa seorang penulis pemula sering mengeluhkan tidak tahu cara memulai dan merangkai kata atau macet dalam menuangkan idenya ke dalam tulisannya. Hal ini memang sering terjadi dan salah memposisikan dirinya dikala menulis. Saya sudah sediakan bagaimana sih cara seorang penulis itu memposisikan dirinya. Dibawah ini sudah ada 3 point penting mengenai posisi penulis. Yuk baca lebih lanjut untuk mengetahuinya. Pertama, Penulis memposisikan dirinya sebagai penulis. Yah tentulah kalau tidak sebagai penulis lalu s