Waspada dengan Tahun Politik 2019


 
Dok Google
Sangat bersyukur pada hari ini masih diberi kesempatan untuk merasakan hidup di dunia ini. Mengenai postingan hari ini, saya akan membawakan sebuah postingan yang agak mirip dengan postingan sebelumnya. Jadi, masih mengenai perpolitikan pada tahun 2019 ini.

Tahun ini tepatnya pada bulan april kita akan bertemu dengan pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Tahun pemilu kali ini akan menjadi tahun yang menjadikan pertarungan para politisi, beserta dengan para pendukungnya. Pada tahun-tahun seperti ini banyak orang akan rela mengorbankan pertemanan bahkan kekeluargaan. Hanya karena beda pilihan akan berakhir dengan sikap saling memusuhi.

Tahun politik sudah pasti akan gaduh. Banyak para politisi yang tiba-tiba jadi alim, jadi peduli, jadi dekat dengan rakyat, yang seolah-oleh 100% menegdepankan kepentingan bersama (rakyat). Tetapi dibalik semua tindakannya ada yang lebih diperhatikan yakni suara rakyat. Kepedulian terhadap rakyat menjelang pemilihan umum hanya karena untuk menarik simpati rakyat sehingga mau memilih terhadap mereka yang mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin.

Bukan hanya itu saja. Banyak strategi yang dilakukan para politisi untuk mempolitisasi rakyat. Mulai dari mengadakan panggung gembira dengan banyak hadiah, mengadakan pembagian sembako, bahkan ada yang sudah menyiapkan sejumlah uang untuk membeli suara rakyat. Dan tentu yang menjadi sasaran adalah rakyat kecil. Namun sekali lagi, ketika mereka sudah terpilih, suara rakyat kecil bahkan sudah tidak akan didengar lagi.
Ketika rakyat tidak cerdas dan tidak bisa memperhatikan kepentingan jangka panjang maka akan dengan mudah mendapatkan sogokan yang seperti diatas. Rakyat dengan rela mencoblos calon pemimpin dengan dibayar. Dengan demikian, ketika suatu calon terpilih menjadi pemimpin, hal pertama yang terfikirkan adalah bagaimana mengembaikan uang yang sudah dikeluarkan demi membeli suara rakyat. Kepentingan bersama (rakyat) akan terbelangkalai hanya karena mementingkan kepentingan prbadi atau sepihak.

Banyak para elit politik negeri ini yang bahkan maksa untuk mencalonkan diri meski tidak memiliki modal. Sehingga mungkin meminjam uang ke sana ke mari. Dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya ketika tidak terpilih menjadi stress bahkan mengalami gangguan jiwa. Lalu bagi mereka yang berhasil terpilih, mereka akan bekerja dengan niatan mengembalikan modal yang sudah mereka keluarkan selama masa kampanye. Yang akhirnya membawa mereka pada perbuatan korupsi. Karena antara pengeluaran selama kampanye dan gaji kerja selama lima tahun menjabat masih lebih besar pengeluaran mereka ketika berkampanye.

Siklus itu terus berlanjut tanpa adanya kesadaran dari para politisi di negeri ini. Tak akan pernah ada habisnya para koruptor di negeri ini dengan sebab niatan jahat sejak sebelum menjadi calon terpilih. Belum lagi janji-janji yang tidak ditunaikan. Janji hanya diucapkan saat kampanye saja. Selesai kampanye maka janji itu hanyut entah kemana.

Belum lagi ketika kita membahas yang namanya kampanye hitam. Antara lawan politik sudah menjadi rahasia umum pasti aka nada yang namanya kampanye hitam. Kampanye dengan menyudutkan lawan politiknya. Kampanye yang tidak sehat. Ini yang sering dijumpai ketika lawan politik memiliki kelemahan yang memungkinkan untuk diungkit keluar supaya lawannya kalah dalam pemilu.

Namun beda halnya kalau kampanye itu menyampaikan fakta yang terjadi pada negara saat itu. Seperti misal, lawan politiknya adalah petahana. Tentu semua orang sudah tahu bagaimana kinerja petahana tersebut selama menjabat dulu. Sebagai lawan politik, jika saat kampanye menyampaikan kegagalan petahana tersebut dalam membawa negara ini, maka itu bukan termasuk ke dalam kampanye hitam. Karena kampanye tersebut menunjukkan fakta di lapangan. Bahkan jika petahana tersebut dulu pernah berjaji saat kampanye dan tidak ada satu pun janjinya yang dilaksanakan, maka lawan politik pun tidak mengapa jika berkampanye dengan membawa sikap lawan yang tidak menepati janjinya tersebut.

Kemudian, keesahan yang paling dirasakan adalah ketika para pendukung terlalu fanatik. Terkadang, karena kefanatikan itu membuat para pendukung buta hingga bermusuhan dengan pendukung lawan. Padahal tentu mereka masih saudara setanah air. Tapi kefanatikan telah membutakan. Jida sudah terjadi seperti itu maka bagi mereka sudah tidak ada lagi hubungan pertemanan, persahabatan, bahkan kekeluargaan jika sudah beda pilihan. Padahal tentu kita tahu bahwa perbedaan pilihan adalah wujud dari demokrasi. Jangan memaksakan pilihan kepada orang lain. Karena siapa pun memiliki hak untuk memilih siapa calon yang dipilih. Tak ada paksaan dalam memilih.

Dengan kejadian yang tidak pantas ada di negeri tercinta ini, alangkah baiknya jika tahun 2019 ini dapat menjaga suasana tetap aman dan kondusif serta menghindar diri dari money politik. Jika pilihan kita beda, ingat bahwa kita masih satu saudara, Indonesia.





Paiton, 10 februari 2019

Komentar