Langsung ke konten utama

Keturunan Hebat ala Gus Muwafiq

Dok Google
Sudah menjadi pengetahuan yang lazim diketahui bahwa seorang perempuan dicipta dari tulang rusuk seorang laki-laki. Hawa adalah perempuan pertama yang dicipta oleh Allah melalui tulang rusuk Adam, yaitu manusia pertama.

Sejak manusia pertama ini, antara laki-laki dan perempuan sudah mulai menciptakan generasi untuk nanti melanjutkan dirinya sebagai khalifah fil ardhi.  Dari situlah manusia melalui proses pernikahan, yang pada akhirnya akan ada generasi (anak) yang akan menggantikan diri (orang tua) di muka bumi.

Sebagai orang tua, pastinya sangat menginginkan agar generasinya (anak) dapat lahir dan tumbuh dengan baik. Maka tidak heran jika para orang tua selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan anaknya tumbuh dengan baik. Baik itu dikarunia keturunan yang sehat jasmani, kecerdasan fikiran, dan kebaikan lainnya.

Keinginan yang selalu muncul pada setiap orang tua, menjadikan KH Achmad Muwafiq merasa perlu untuk memberikan tips nya. Beliau memberikan tips sederhana namun memberikan dampak luar biasa bagi setiap orang yang mau melakukannya.

Menurut Gus Muwafiq (sapaan akrab KH Ahmad Muwafiq) ini, tipsnya adalah dengan memperlakukan istri dengan baik. Dengan perlakuan yang baik, sang istri akan merasa bahagia, dan dari kebahagiaan itu akan berdampak positif pada anak.

Sikap kita (seorang lelaki) terhadap perempuan memang harus diperhatikan. Jangan sampai ada tindakan kekerasan kepadanya. Meskipun kepala keluarga jangan sampai bertindak sewenang-wenangnya saja. Perempuan memang harus selalu disikap lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang.

Bagaimanapun itu, seorang laki-laki harus penuh cinta menghadapi istrinya. Karena kata Gus Muwafiq, suasana hati seorang ibu sangat berpengaruh pada suasana hati sang anak, dan dengan modal kesenangan itu sang ibu akan lebih semangat menemani dan mendidik anak.

"Ketika seorang ibu hatinya tenang, maka ibu akan mengeksplorasi bagaimana mendidik anak yang hebat. Anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibu, maka hati inu harus riang gembira, tenang dan tidak terbebani masalah-masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab suami," kata Gus Muwafiq di laman facebook resminya.

Jika hal ini masih belum bisa direalisasikan dalam kehidupan berkeluarga, segeralah berubah. Sang istri memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Sebut saja, ketika sang istri mulai mengandung, melahirkan, menjaga dan merawat anak, hingga anak itu tumbuh dewasa. Fase itu bukanlah sederhana bahkan nyawa bisa jadi terancam.

Kedekatan anak lebih pada seorang ibu, umumnya lebih erat dibanding ayah. Gus Muwafiq menyederhanakan dengan cara mengasihi anak. Sederhana saja; ibu menggendong 2-3 jam kuat-kuat saja, sementara bapak menggendong anak 5 menit sudah pegel-pegel.

Maka dari itu, sayangilah perempuan (istrimu) dan perlakukan sebaik-baiknya. Kasihanilah ia yang sudah berjuang demi anak dan bahkan 24 jam full ia rela menemani buah hatinya tanpa mengenal lelah. Jika perempuan sudah diperlakukan dengan baik, maka sang anak akan dapat dimungkinkan untuk menjadi generasi yang hebat.

Sepatah kata dari penulis, bahwa "dibalik anak yang hebat terdapat ibu yang hebat juga, serta lelaki yang mendukungnya dengan penuh cinta dan kasih". (AR)

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/101318/gus-muwafiq-mau-punya-keturunan-hebat-jangan-sakiti-perempuan


Paiton, 13 Januari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Strategi komunikasi dalam membangun jaringan (berpikir strategis dan bertindak taktis)

  Perjalanan panjang dalam dunia kampus, banyak orang yang mengikrarkan dirinya sebagai mahasiswa, tentu tidak akan lepas dengan berbagai persoalan, baik internal maupun eksternal. Faktor internal bisa dikategorikan dengan kurang keberanian pada diri sendiri, keluarga yang kurang mendukung, dan lingkungan yang kurang bersahabat. Sedangkan eksternal bisa terjadi pada semua   persoalan yang ada dalam dunia akademik, seperti kurang respect terhadap orang baru, sulit mencerna dunia luar, dan lain sebagainya. Persoalan yang sedemikian banyak, sudah tidak bisa dihitung dengan jari, ternyata cukup mampu ditepis dengan keaktifan di organisasi. Kehadiran organisasi sebagai salah satu pilihan bagi mahasiswa untuk mengembangkan dirinya, sudah tidak perlu diragukan. Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, mucul banyak organisasi dengan latar belakang kemunculan dan tujuannya, diperkenalkan kepada kita sebagai elemen dari instansi pendidikan tersebut. Di era sekarang, yang penu

Catatan untuk seorang perempuan yang berani berdiri diatas kakinya sendiri

Kartini, sosok perempuan hebat masa lalu Nama dan perjuangannya adalah sesuatu yang baru Perempuan cerdas dalam pusaran orang-orang yang tidak tahu Bergema, menentang budaya dan aturan yang kaku   Jiwanya memberontak terhadap sejarah yang mulai membeku Berdiri dan berlari, melawan arus untuk lebih maju Semuanya merupakan warisan besar untuk perempuan abad 21 Untuk itu, sebuah refleksi, apakah kita mampu untuk meniru   Perempuan abad 21, harus banyak memberi kontribusi Di kala semua orang terpaku pada ajaran yang sudah basi Perempuan layaknya kartini yang selalu menginspirasi Cahaya terang untuk semua kalangan lintas generasi Ia yang tidak mudah untuk didominasi oleh para laki-laki   Karya, adalah modal utama perempuan masa kini Cerdas dan visioner adalah sebuah visi Akhlakul karimah sebagai penunjang untuk lebih mumpuni Menuju perempuan berdaya dan mandiri yang punya harga diri Layaknya seorang ibu bernama kartini   Wahai para kartini baru, j

Pembukaan Osabar 2021, KH Zuhri Zaini Jelaskan Pesantren dan Santri Zaman Nabi

  Kegiatan rutin tahunan Orientasi Santri Baru (OSABAR) Pondok Pesantren (PP) Nurul Jadid kembali digelar. Osabar yang akan dilaksanakan selama 5 hari, 11 – 15 Juli 2021, digelar di Aula 2 bagi santri putra dan Aula 1 bagi santri putri. Pengasuh PP Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, menyampaikan selamat datang kepada para santri baru baik yang sudah maupun belum pernah mondok. “Mudah-mudahan anda-anda sekalian selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT sehingga bisa kerasan di pondok ini dan bisa melaksanakan kegiatan dengan baik, serta diberi kesehatan dan hidayah dari Allah,” harapnya. Selain itu, Kiai Zuhri menuturkan bahwa pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang berbasis keislaman. “Khusus di Indonesia tentu berbasis masyarakat dan kebangsaan,” jelasnya. Lebih lanjut, Kiai Zuhri juga menjelaskan bahwa cikal bakal pondok pesantren sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, Nabi tidak hanya diutus sebagai rasul namun juga menjadi muallim (red, pengajar).