Jauhi Hoax dengan Bijak Bermedia


Berawal dari keresahan masyarakat awam dan para pengguna internet yang setiap harinya atau bahkan perdetiknya selalu mendapatkan berita atau informasi yang sudah terupdate. Dari sinilah saya berhasrat untuk menulis tulisan ini.
Dok google
Pada hari ini kita telah memasuki hari keempat dari bulan januari 2019, tepatnya pada hari jum’at 4 januari 2019. Baru empat hari kita merasakan suasana tahun baru. Banyak kata yang muncul ketika ada moment tahun baru, seperti “tahun baru harus lebih baik” atau “tahun ini saya harus mencapai cita-cita atau harapan yang selama ini telah saya tanam”, dan lain sebagainya. Jadi, ada banyak orang yang mengikrarkan dirinya untuk melakukan perubahan-perubahan yang akan membawa damapk positif, baik bagi dirinya, keluarganya, tetangganya, negara, agama, dan semacamnya.

Mumpung moment tahun baru masih belum basi, alangkah baiknya kalau kita benar-benar melakukan tindakan yang sekiranya berdampak positif dan tidak menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Hal ini tentu dengan cara memperbanyak bertingkah atau berbicara yang sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku. Karena fenomena yang ada di lingkungan sekitar, yaitu dunia nyata atau dunia maya, sudah ada banyak tersebar berita palsu yang sering kita kenal dengan Hoax.

Mudahnya mengakses dan mengirim berita, banyak oknum yang menggunakan situs tidak resmi menyebar berita palsu atau membuat onar. Entah itu memang sengaja berbuat demikian atau memang tidak mengerti atau kurangnya pendidikan literasi digital, yang jelas hal itu sudah meresahkan terhadap masyarakat luas. Kita sering diajarkan untuk bertabayyun atau menelaah kembali,  agar kita tidak sembarangan melontarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Berita palsu atau hoax ini sering kali terjadi di dunia nyata dan lebih banyak di dunia maya yaitu internet, yang bertujuan untuk meresahkan masyarakat atau bahkan ingin menjelek-jelekkan kubu (baca Kelompok) tertentu. Apalagi menghadapi tahun politik 2019 ini, yang mana akan diselenggarakan pemilihan umum (pemilu) presiden dan wakil presiden di Indonesia. Mereka, orang yang tidak bisa bijak dalam bermedia akan berbuat semena-mena untuk membuat atau memposting berita palsu agar dapat menjelekkan, membid’ahkan, dan mencari perhatian masyarakat terhadap kelompok tertentu yang menjadi pilihannya.

Menjembatani tidak terjadinya atau tidak semakin berlarut dalam mengkonsumsi berita hoax, saya mencoba untuk menyajikan beberapa cara agar dapat menangkalnya. Dalam buku “Jurnalisme Konstruktif untuk Mahasiswa” karangan 3 mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton memuat cara-cara agar terhindar dari berita hoax. Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Nurja LP3M UNUJA ini berusaha agar para penikmat dunia maya (Sosial Media) tidak mudah menelan dan membagikan berita yang jauh dari kebenarannya.

Apa aja sih caranya agar kita dapat mengetahui bahwa berita tersebut tergolong asli atau palsu? Yuk kepoin terus sampai selesai agar kita semua dapat mengindentifikasi berita layak dan tidaknya untuk dikonsumsi. Cara atau langkah yang disajikan dalam buku ini juga sama dengan cara yang disampaikan Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho, yang pernah di post pada halaman kompas.com, minggu (8/1/2016). Setidaknya ada 5 cara untuk bisa kita realisasikan dalam meneangkal berita hoax, antara lain, hati-hati dengan judul provokatif, cermati alamat situs, periksa fakta, cek keaslian foto, dan ikut serta grup diskusi anti-hoax.

1.     1. Hati-hati dengan judul provokatif
Perlu kita sadari semua bahwa, berita palsu itu sering kali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Mereka (para penyebar hoax), biasanya hanya mengubah atau memoles berita yang didapat dari media resmi untuk kemudian di posting ulang dengan berbagai gaya bahasa agar menimbulkan persepsi tertentu (dari orang yang membaca) yang dikehendakinya.

Lalu dengan apa kita dapat menanggapi ketika menjumpai berita dengan judul yang provokatif? Sudah saya jelaskan diatas, bahwa penyebar hoax biasanya hanya memoles dari berbagai media resmi. Maka dari itu, sebaiknya anda mencari referensi dari media resmi dan terpercaya yang serupa dengan berita hoax tersebut. Ketika itu, kalian dapat membuat kesimpulan apakah berita tersebut benar atau tidak.

2.      2. Cermati alamat situs
Cara kedua ini khusus untuk informasi yang diperoleh dari website atau yang mencantumkan link, dengan mencermati alamat URL situs terkait. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi, misalnya menggunakan domain blog, maka informasi yang disajikan bisa dibilang diragukan kebenarannya.

Menurut catatat Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs resmi tidak sampai 300. Selain itu, menurut yang dilansir dari laman kominfo.go.id ada 800.000 situs penyebar berita palsu di Indonesia. Artinya masih ada puluhan ribu yang situs yang berpotensi untuk menyebarkan informasi palsu di media sosial yang harus kita semua waspadai. Miris sekali bukan, kita hidup pada lingkungan dengan kepungan berita palsu yang semakin hari semakin mendarah daging.

3.      3. Periksa fakta
Setiap berita yang ingin kita konsumsi perlu memperhatikan dari mana berita tersebut berasal. Apakah bersumber dari institusi resmi seperti KPK dan Polri? Atau malah hanya dari oknum-oknum yang tidak jelas. Maka dari itu, jika kita semua tidak langsung percaya apabila informasi tersebut berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat. Tentu cara kita menyikapi harus dengan cara yang baik. Hal lain juga mengenai keberimbangan sumber datanya. Jika hanya ada satu sumber, maka informasinya akan diragukan karena pembaca tidak akan mendapat gambaran yang utuh dan jelas.

Selain itu, kita juga perlu untuk mengamati adanya perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta atau opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, dalam artian sangat mengandung data yang lengkap dan kuat. Sedangkan opini adalah pendapat atau kesan  dari penulis  berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

4.      4. Cek keaslian foto
Perkembangan tekonologi informasi yang semakin canggih, seseorang tidak lagi hanya bisa untuk memanipulasi konten yang berupa teks, melainkan juga konten yang berupa foto dan video. Jadi, sangat dipastikan, jika ada pengedar berita hoax yang memanipulasi foto dan video untuk memprovokasi pembaca.

Seperti yang saya katakan diatas, bahwa tekonologi sudah semakin canggih. Dengan kecanggihan itu, kita harus dapat menggunakan dengan sebaik mungkin. Adanya mesin pencari Google, kita dapat mengecek keaslian foto yang diragukan keasliannya, yaitu dengan cara drag and drop ke kolom pencarian google images. Hasil pencariannya akan menunjukkan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga kita dapat membandingkanya.

5.      5. Ikut serta grup diskusi anti-hoax
Di sejumlah media sosial seperti facebook, whatsapp, telegram, dan lain sebagainya, terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, Grup Sekoci, dan lain-lain.

Dengan kita ikut serta bergabung dalam grup tersebut, netizen (sebutan pengguna internet) bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota dapat berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Mungkin itulah yang lima cara sederhana untuk mengidentifikasi berita hoax. Setelah tahu akan cara untuk mengetahu berita hoax, timbul pertanyaan “lalu bagaimana caranya untuk mencegah agar tidak tersebar?”. Pertanyaan itu sering muncul dibenak para penimat informasi di dunia maya yang sering mendapati adanya berita hoax.

Untuk kalian para pengguna Facebook, bisa gunakan fitur Report Status dan kategorikan informsasi hoax sebagai hatespeech/harrasment/rude/threatening, atau bisa kategori lain yang sesuai. Biasanya, jika ada banyak aduan dari netizen, pihak facebook akan menghapus status tersebut.

Jika kalian pengguna Google, bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs dari hasil pencarian apabila mengandung informasi palsu. Di Twitter, memiliki fitur Report Tweet untuk melaporkan twit yang negatif, demikian juga dengan Instagram. Kalian dapat juga memanfaatkan aplikasi pendeteksi hoax seperti plagiarism checker, hoax buster tools dan seambrek pendeteksi hoax lainnya.

Selain memanfaatkan fitur tersebut, kalian dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan cara melayangkan e-mail ke alamat [email protected]. Masyarakat Indonesia anti hoax juga menyediakan laman data.turnbackhoax.id untuk menampung aduan hoax dari netizen. Laman tersbut juga berfungsi sebagai database yang berisi referensi berita hoax.

Sangat miris sekali jika berita hoax masih terus berlarut bahkan mendarah daging di Indonesia. Marilah bersama-sama untuk bijak dalam bermedia dan bertabayyun sehingga berita hoax akan kalah dengan kecerdasan kita dalam bermedia sosial. Terus kembangkan pendidikan literasi digital dan ciptakan kenyamanan kepada masyarakat dengan menggunakan media sosial sebagai mana mestinya. Ayooo rekkk kembali bijak bermedia!!!


*Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UNUJA Paiton

Komentar