Ceramah KH Tuffatul Ghani Mufaddal dalam rangka Pengajian Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW

Dok Pribadi
Sebagai kegiatan tahunan, Nurul Hikmah Bringsang Giligenting Sumenep mengadakan pengajian Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini, Pengasuh Nurul Hikmah, K Suryono, mendatangkan muballigh dari Situbondo, yakni KH Tuffatul Ghani Mufaddal.


K Tuffah sangat mengapresiasi terhadap masyarakat Giligenting terlebih masyarakat Desa Bringsang yang sangat antusias mengikuti pengajian. Halaman mushallah Nurul Hikmah dipenuhi dengan ribuan jamaah dari kalangan muslimin dan muslimat. Menurutnya, orang yang merapat (menghadiri) pengajian sangat luar biasa keutamaannya dan agung fadilahnya. Bahkan Nabi mendawuhkan, orang yang menempuh suatu jalan guna mencari ilmu, akan dimudahkan oleh Allah untuk jalan menuju surga.
مَنْ سَلَكَ طَريقاً يَلتَمِسُ فِيه عِلماً ، سَهَّلَ الله لَهُ بِهِ طَريقاً إلى الجَنَّةِ
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga". (HR Muslim).

Tidak ada perbedaan bagi semua orang, baik itu miskin, kaya, punya jabatan, laki-laki, perempuan, kaum tua, anak-anak, yang penting menempuh jalan kebaikan mencari ilmu, pasti Allah akan memudahkan jalannya menuju surga. Kenapa hanya karena mencari ilmu, Allah memudahkan jalannya. Padahal, terkadang orang yang mencari ilmu (beliau mencontohkan mencari ilmu dengan orang yang menghadiri pengajian) tidak harus bermodal, hanya tinggal datang dan mendengarkan ceramah sang kiai. Hanya segitunya, Allah sampai memudahkan jalannya dan tampaknya sangat gampang dan murah.

Lebih lanjut, Kiai Tuffah menjelaskan bahwa, hal itu bukan urusan gampang dan murah, melainkan karena adanya cintanya (lebur) Allah kepada orang-orang yang nyambung hatinya terhadap ilmu yang datang darinya. Dikatakan, Allah itu sangat senang terhadap orang-orang yang 'alim. Sebagaimana firmannya kepada Nabi Ibrahim, “Inni 'alimun uhibbukulla 'alimin”
"Sesungguh aku adalah dzat yang maha 'alim dan senang terhadap orang-orang 'alim".

'Alim itu tidak diukur sebagaimana bagusnya pakaiannya, dari menarik penampilannya. Meskipun memakai gamis dan syurban yang mahal, pakai tasbih setiap hari, belum tentu menunjukkan bahwa ia 'alim. Orang 'alim itu dikatakan gampang tapi susah. Dalam suatu maqala dijelaskan, menurut K Tuffah yang mengutip dawuh dari gurunya, KHR Kholil As'ad bahwa dawuh itu adalah haditsnya Nabi Muhammad SAW. Tetapi menurutnya, di penjelasan lain menyebutkan bahwa, dawuhnya Abdullah Ibn Mubarok. “Laa yazalul mar’u ‘aliman maa thalabal ‘ilma faidza dhanna annahu qad ‘alima faqad jahila”
"Senantiasa orang itu dikatakan 'alim ketika ia masih terus belajar, dan dikatakan bodoh ketika dirinya merasa pintar".

Masih dikatakan 'alim ketika masih senang terhadap ilmu, mau mengaji, senang mendengarkan pengajian,  senang terhadap orang-orang ahl ilmu, dan lain sebagainya, maka orang itu masih dikatakan 'alim. Tapi, orang mau dikatakan bodoh itu tidak kalah gampangnya, meskipun pintar baca kitab dari yang biasa sampai yang luar biasa susahnya, dari yang tipis sampai yang besar, semunya sudah diluar kepala, akan jatuh derajat ke'alimannya ketika merasa dirinya telah pintar.

Maka dari itu, tetap sambung ilmu dengan cara jadi orang 'alim secara langsung yang menyalurkan ilmu kepada orang lain. Jika tidak mampu, jadilah muta'alliman, yaitu orang mencari ilmu, contoh orang yang mau ngaji. Jika tidak, tetap sambung dengan cara senang mendengarkan pengajian (kebaikan). Jika masih tidak mampu karena banyak faktor, tetaplah dengan cara muhibban, yaitu senang terhadap kepada orang-orang ahl ilmu. Dari itu, insya allah akan tetap kebagian pahala dari Allah yang dibagikan kepada orang 'alim, sesuai dengan firman Allah (dalam hadits qudsi) kepada Nabi Ibrahim.
*****

Malam peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, merupakan salah satu mukjizat nabi. Satu-satunya peristiwa fenomenal, persitiwa agung, pemberian dzat yang maha agung, untuk makhluk yang paling agung, untuk diberikan pemberian yang paling agung.

Peristiwa Isra Mi'raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW di waktu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan naik ke Sidratul Malam. Perjalanan malam ini bukanlah semalam suntuk, melainkan ada yang menyatakan 3 jam dan ada pula yang mengatakan dalam waktu 15 menit. Jauhnya perjalanan tersebut sangat luar biasa karena dapat ditempuh dalam waktu yang sangat singkat. Sebuah gambaran bahwa, " Tsumma arudduhu minal arsy qobla ayyabrudal farsy"

Nabi itu dikembalikan oleh Allah dari arsy sebelum tempat duduknya dingin. Kita tahu bahwa setiap kita duduk, pasti tempat duduk itu akan sedikit hangat. Hilangnya kehangatan itu mungkin paling lama 15 menit. Perjalanan itu yang semestinya ditempuh bertahun-tahun dapat ditempuh dengan waktu yang singkat. Karena Nabi bukanlah berjalana sendiri, melainkan ada campur tangan tuhan untuk menjalankan. Kalau sudah tuhan yang menjalankan, tidak ada yang mustahil.

Jarak yang jauh menjadi dekat. Waktu yang seharusnya lama menjadi singkat. Itulah gambaran perjalanan nabi pada Isra' Mi'raj. Ketika Nabi dinaikkan, ada banyak bertemu dengan para nabi lain yang berada di langit. Langit pertama bertemu dengan Nabi Adam. Kedua, bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Ketiga, bertemi dengan Nabi Yusuf. Keempat bertemu dengan Nabi Idris. Kelima bertemu dengan Nabi Harun. Keenam bertemu dengan Nabi Musa. Ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim.

Melewati ketujuh langit, hanya Nabi Muhammad SAW sebagai satu-satunya manusia yang dapat menjangkaunya. Terus naik ke Sidratul Muntaha dan sampai ke Mustawa bertemu dengan Gusti Allah. Tidak ada lain, Allah mewajibkan kepada Nabi dan Ummatnya yakni Shalat 50 waktu.

Kita sangat beruntung menjadi Ummat Nabi Muhammad SAW yang penuh kasih sayang darinya dan Allah. Shalat yang sekarang sudah mendapat negoisasi dari Allah. Kalau saja shalat tetap 50 waktu, kita tidak akan mampu melaksanakannya. Aslinya shalat, 4 rakaat tiap waktunya, dan berarti kalau 50 waktu berjumlah 200 rakaat.

Diskon dari Allah itu juga tidak lepas dari peran Nabi Musa yang memeriksa pemberian Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi Musa berkeyakinan bahwa umat Nabi Muhammad SAW tidak akan mampu mengerjakan shalat 50 waktu dalam sehari semalam. Karena menurut Nabi Musa, kaumnya sendiri, Bani Izrail yang sudah berkemampuan lebih masih saja tidak mampu sepenuhnya melaksanakan shalat. sehingga, Nabi Musa meminta pada Nabi Muhammad untuk kembali kepada dalam rangka meminta keringanan jumlah waktu shalat.

Setelah diskon itu diberikan oleh Allah, sehingga shalat yang asalnya 50 waktu tinggal 5 waktu. Dalam riwayat berbeda-beda menyatakan mengenai permintaan keringanan tersebut, ada menyatakan kembali lima kali dan ada menyatakan kembali sampai 9 kali guna meminta keringanan tersebut. Lima waktu yang ada sampai sekarang ini, masih dipandang sangat berat oleh nabi musa. Tetapi nabi menolak untuk kembali meminta kekurangan, karena nabi sudah merasa malu untuk meminta keringan pada sang maha pencipta, Allah SWT. Betapa belas kasihannya Allah kepada Nabi dan ummatnya. Sehingga kalau diistilahkan, Allah sudah memberikan diskon 90 % terhadap permintaan keringanan Nabi.
Ternyata apa yang dikatakan Nabi Musa sangatlah benar. Shalat benar-benar sangat berat dalam pelaksanaanya. Kita sendiri pasti tahu, ketika ada adzan dikumandangkan, diri kita masih belum terpanggil sepenuhnya untuk segera menyegerakan shalat pada awal waktunya. Kita masih lebih mementingkan panggilan yang datang dari sesama manusia, dari gadget dari pada memprioritaska panggilan adzan. Shalat itu berat bukan hanya keluhan manusia, tetapi Allah juga menyatakan dalam firmannya di al-Qur'an.






“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya hal demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang prang yang khusyu’, (QS. al-Baqarah: 45) (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah:46)

Kita sebagai manusia yang tidak punya daya, diperintah untuk minta pertolongan kepada Allah. Kita diperintah dengan cara sabar dan shalat. Sabar itu sangat pahit tetapi manfaat dari sabar lebih manis dari pada madu. Sedangkan, shalat itu berat kecuali pada orang-orang yang khusyuk. Orang khusyuk adalah orang yakin bahwa diri akan bertemu dengan tuhannya dan akan kembali kepadanya sehingga orang itu diberi kemudahan dan keringanan serta diberi kemampuan untuk menjaga dan melaksanakan shalat.

Sederhana saja, ketika dalam panggilan adzan sampai pada kalimat hayya alasshalah, maka jawabannya berbeda. Kenapa demikian? Karena tanpa adanya pertolongan dan daya kekuatan dari Allah, manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Ketika sudah diberi pertolongan dan daya kekuatan, sakit bukan halangan, tua bukan rintangan, tetap akan menjaga shalat.

Sebagai motivasi bersama, ada cerita dari Probolinggo. Almaghfurlah KH Muhammad Hasan Seppo, Pendiri Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo. Beliau ini ketika lanjut usia, tidak bisa berjalan (meyos) dengan sendiri, harus ada yang menyanding di sampingnya. Tetapi anehnya, ketika sampai pada waktu shalat, ia tampak tidak seperti orang lanjut usia dan terkena penyakit. Shalatnya sangat sempurna seperti shalatnya orang yang masih muda. Beliau dapat shalat tegak dengan sendiri tanpa ada yang memegangnya. Hal itulah yang disebut ada pertolongan dari Allah, karena beliau mempunyai hati yang bersih, yang bersambung kepada Allah sehingga dapat tetap menjaga perintahnya.

K Muhammad Gunung Sari Pamekasan berdawuh bahwa, shalat iti tidak di poskan oleh Allah. Beda dengan perintah-perintah yang lain yang hanya lewat wahyu melalui malaikat jibril. Tetapi shalat tidak cukup wahyu, Nabi langsung diundang oleh Allah untuk menemuinya. Maka tidak heran jika nanti di akhirat, shalat yang menjadi pertanyaan pertama. Shalay adalah ummul ibadah, induk dari segala ibadah. Jika shalatnya baik, insya allah inadah yang lain akan ikut baik, dan begitu pula sebaliknya.

Di atas dijelaskan bahwa shalat itu berat kecuali pada orang yang khusyuk. Maka dari itu, hidupkan terlebih dahulu sambungannya, yakni menghidupkan rohani. Menghidupkan sambungan rohani itu bisa dilalui dengan banyak bershalawat. Inilah hikmah dari kita diajari untuk memperbanyak membaca shalawat.

Suatu ketika, Almarhum K Hafid Thohir pernah menyampaikan dawuh kepada Almaghfurlah KH Ahmad Sufyan. Beliau menyampaikan tentang tidak mengertinya mengenai anjuran membaca shalawat nariyah, kenapa tidak disuruh melaksanakan shalat padahal shalat lebih wajib. K Sufyan menangapinya dengan apa yang sudah dipaparkan diatas. K Sufyan menyatakan bahwa shalat itu berat bukan hanya kata manusia tetapi juga pernyataan Allah. Ketika seseorang rohaninya masih sakit, ia tidak akan mau untuk melaksankan shalat meskipun tahu shalat itu wajib. Tetapi insya allah dengan cara bershalat, menghidupkan dan menyembuhkan rohani yang sakit, tidak perlu disuruh, orang itu akan mengerjakan shalat (kebaikan) dengan sendirinya. Maka dari itu sembuhkan terlebih dahulu setiap rohani yang sakit.
*****
Dok Pribadi
Shalawat itu sangat besar manfaatnya. Apapun shalawatnya, insya allah akan tetap sampai kepada Nabi Muhammad SAW. semoga kita selalu mendapat barakah shalawat dan syafaat Nabi.

Ada sebuah cerita yang mengkisahkan tentang seorang pemuda mabuk. Dari saking seringnya ia mabuk, sampai lupa pada banyak hal. Suatu ketika, ada seorang kiai yang mengingatkan kepadanya. Kiai tersebut menyuruhnya untuk bertobat, tidak terus menerus dalam kejelekan, karena tingkah laku tersebut akan mendapat siksaan kelak di Surga. Namun, pemuda pemabuk tersebut tidak pernah mengikuti nasihat kiai. Ia malah menjawab untuk tidak mengurusi hidupnya, mending urusi saja kehidupannya sendiri (kiai).

Setelah pemuda itu pulang. Ia mendapati tamu yang perlu kepadanya. Tidak lain ada malaikat izrail, pencabut nyawa. Pada saat itulah, ia meninggal dunia. Tetapi, meskipun ia seorang pemabuk yang terus menerus berada dalam kejelekan, ia malah dimimpikan baik oleh kiai yang pernah menasihatinya. Kiai itu bermimpi bahwa, pemuda tersebut berada di tempat yang sangat terang, memakai baju yang indah, dan banyak kebaikan disisinya.

Ternyata setelah ditanyakan oleh kiai itu dalam mimpinya. Dalam perjalanan pulang kerumahnya, sebelum pemuda itu meninggal, ia melewati sebauh majelis. Pemuda itu mendengar sebuah dawuh dari kiai. "Warafa'a shautahu wajabat lahul jannah"
"Barang siapa yang membaca shalawat lalu mengangkat suaranya, wajibnya baginya masuk surga"

Lalu, pemuda itu berkeyakin bulat untuk ikut dalam majelis tersebut. Ia juga bersemangat untuk mengeraskan suaranya dalam membaca shalawat. Dari keikutsertaan dalam majelis tersebut, ia mendapat ampunan Allah dan bahkan semua orang di majelis tersebut. Sehingga ia mendapatkan kesempatan duluan masuk surga. Sungguh laur biasa manfaat dari shalawat.

Dalam akhir tausiyahnya, ia menyampaikan untuk terus bershalawat dalam rangka menghidupkan rohani sehingga mendapatkan kemampuan dan daya untuk selalu menjaga dan melaksanakan shalat. Selain itu, beliau juga menyampaikan untuk terus berusaha dalam kebaikan seperti banyak membaca al-Quran.


Komentar