Telepati K Hasanuddin Giligenting dan KH As'ad Syamsul Arifin Sukorejo


 
Dok Pribadi

Dunia yang luas sudah tidak ada bedanya dengan sebuah kampung. Apa yang sedang terjadi di belahan dunia dapat diketahui dengan waktu yang singkat bahkan bersamaan. Teknologi sudah serba canggih yang terus merambah ke semua lini kehidupan.

Pada hari ini, jarak yang jauh bukan lagi sebagai penghalang. Tidak ada lagi batasan seseorang untuk melakukan komunikasi atau mengakses informasi yang sedang terjadi. Hal ini tentu akan memudahkan kita sebagai manusia yang hidup pada zaman sekarang untuk menyapa keluarga, teman, dan orang yang pernah kita kenal tapi berada di tempat yang sangat jauh.

Pernah gak sih terbayangkan dalam benak kita bahwa pada zaman dulu itu orang juga bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan jarak jauh yang menjadi pemisah. Meskipun pada dulunya tidak ada alat atau telpon genggam untuk menyatukan komunikasi yang akan berlangsung. Hanya saja pada waktu itu ada surat kabar yang bisa membawa kabar tetapi dengan waktu yang telah ditentukan. Tetapi ada juga yang bisa berkomunikasi dengan cepat layaknya menggunakan handphone.

Kita bisa tahu bahwa zaman dulu bisa berkomunikasi cepat seperti sekarang dengan melirik terhadap sejarah.  Ada seorang kyai yang berdomisili di Kecamatan Giligenting Kabupaten Sumenep. Beliau adalah K Hasanuddin bin KH Muntaha (Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren An-Nur). Seorang waliyullah yang rela mengorbankan pikiran, harta, dan tenaganya untuk menyiarkan islam di wilayah tersebut.

Atas idzin Allah yang maha kuasa, beliau mampu berkomunikasi dengan kenalannya yang berada di tempat yang berjauhan. Dikisahkan bahwa beliau sering berkomunikasi dengan KHR As’ad Syamsul Arifin (Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo). Bahkan hal ini sering belaiu lakukan setiap malam guna menyambung tali persaudaraan, bertukar fikiran, berbagai ilmu, dan lain sebagainya.

Pernah suatu ketika beliau menanyakan kepada santrinya perihal K As’ad Sukorejo. “Apakah kalian pernah sowan (nyabis) ke K. As’ad?” 

“Belum Kyai” jawab santrinya dengan spontan atas pertanyaan gurunya itu.

“Berarti kalian masih tidak tahu ke K. As’ad, kalau saya sudah tahu bahkan setiap malam sering berkomunikasi dengan beliau”. Kata K Hasan menanggapi jawaban santrinya.

Hal ini menjadi pertanyaan besar. Padahal pada saat itu, tidak alat yang bisa digunakan utuk berkomunikasi di wilayah Gilogenting tersebut. Tetapi K. Hasan sudah mampu berkomunikasi jarak jauh dengan K As’ad yang berada di Sukorejo.

Dilain waktu, K Hasan juga pernah menanyakan Nyai Rum (Putri K As’ad) kepada santrinya. “Apakah kalian pernah bertamu ke Nyai Rum?”

Santrinya yang tidak pernah bertamu dan bahkan tidak pernah berpapasan dengan nyai rum hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan serentak menjawab “belum kyai”

“Kalau saya hampir tiap malam berkomunikasi dengan beliau” balas K Hasan kepada santrinya.

Padahal jarak dari Giligenting Sumenep butuh waktu yang cukup lama untuk bisa sampai ke Sukorejo Situbondo. Tetapi ada sesuatu yang menjadi pendukung sehingga beliau berdua bisa dengan mudahnya untuk berkomunikasi walau jarak jauh menjadi pemisahnya. Mungkin kita sering mendengar istilah telepati. Dengan Telepati ini, seseorang bisa berkomunikasi jarak jauh dengan mata hati dan hanya bisa dipunyai oleh orang yang berada ditingakatan Waliyullah.

Dari seringnya beliau berkomunikasi dengan K As’ad dan Nyai Rum membuat keduanya tidak mau atau enggan untuk hadir ketika ada yang mengundang hadir ke Giligenting. Alasannya cukup sederhana, agar masyarakat Giligenting tidak mengesampingkan ulama’ yang berada di wilayah tersebut yang jelas-jelas mampu untuk berdakwah, memotivasi dan mengubah masyarakat Giligenting ke arah yang lebih baik.

Bahkan K As’ad dan Nyai Rum bukan hanya tidak bersedia hadir ke Giligenting. Tetapi jika ada Orang Sumenep khususnya dari Giligenting beliau menolaknya. Hal ini pernah terjadi ketika ada orang Giligenting yang sowan ke Sukorejo dengan maksud meminta barokah. Karena orang tersebut mempunyai orang tua yang dalam keadaan sakit parah dan sudah bertahun-tahun belum menemukan obat yang bisa menyembuhkannya. Sehingga orang tersebut menyempatkan waktu untuk sowan ke Dhalem (rumah) Nyai Rum.

Kehadirannya ke Sukorejo bukannya mendapatkan obat atau semacamnya. Ia ditolak dan tidak diberi apa-apa oleh nyai rum. Bahkan belum sempat ia mengutarakan maksud dan tujuannya sowan ke Sukorejo, Nyai Rum sudah mendahuluinya untuk segera pulang ke Giligenting.

“Buat apa kamu datang jauh-jauh ke Sukorejo sedangkan orang tuamu sedang terbaring karena sakit dirumahmu. Kalau kamu hanya mau minta air barakah untuk dijadikan perantara kesembuhan orang tuamu, kamu tidak perlu jauh-jauh datang kesini. Di Pulaumu sendiri (Giligenting) ada seorang Kyai yang lebih hebat daripada saya” jelas Nyai Rum kepada tamunya tersebut.

Nyai Rum juga menambahkan untuk memperjelas dawuhnya tersebut. “Namanya Kyai Hasanuddin. Dari rumahmu, kamu harus berjalan ke arah selatan lalu ke timur. Setelah itu kamu berbelok ke selatan dan terkahir berbelok ke barat.” Tegasnya kepada sang tamu.

Subhanallah begitu rincinya beliau memberikan penjelasan kepada tamunya. Padahal beliau tidak pernah berkunjung ke Giligenting karena merasa tidak pantas (sengkah) terhadap Kyai Hasan. Tetapi meskipun tidak pernah berkunjung ke Giligenting, beliau (nyai rum) tahu akan tempat yang bernama Giligenting.

Dawuh beliau (nyai rum) yang disampaikan kepada tamunya itu sangat benar. Karena untuk bisa sampai ke rumah (Dhalem) K Hasan, orang tersebut memang harus melalui jalan yang telah disampaikannya.

Begitulah kehidupan seorang Waliyullah. Tidak ada hijab di dunia ini selagi Allah berkehendak kepadanya.

*****

* Semoga kita semua mendapatkan barakah dari K Hasanuddin dan Seluruh pengasuh dan keluarga Pondok Pesantren An-Nur Giligenting Sumenep. Tidak lupa, semoga juga mendapatkan barakah dari K As’ad dan seluruh pengasuh serta keluarga Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo. Selain itu, semoga pribadi kita dapat meneladani dan meneruskan perjuangannya. Aamiin yaa rabbal alamin.

* Sumber:  Cerita dari K Idris Romli (Beliau ada cucu dari K Hasanuddin Bin KH Muntaha)